La Nita Care

Health and Motivational Clinic

Tips Mengatasi Kekacauan 11 23 November 2010

Filed under: Newsletter — lanitacare @ 12:38 PM
  • Pikirkan pekerjaan sebagai alat untuk mengekspresikan nilai-nilai Anda dan siapa diri Anda.
  • Pilihlah suatu pekerjaan yang memperlihatkan bakat-bakat Anda.
  • Gunakan kreativitas Anda untuk membuat pekerjaan Anda bermakna dan untuk mengekspresikan kebutuhan dalam diri Anda.
  • Pertahankan sikap yang positif. Sesuaikan harapan-harapan Anda.
  • Melakukan apa yang Anda sukai akan menelurkan keberhasilan dan membangun rasa percaya diri.
  • Seimbangkan kehidupan dengan mencari pendekatan yang fleksibel dan kreatif terhadap pekerjaan.
  • Analisalah filsafat atasan Anda mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Pertimbangkan waktu luang, pembagian tugas, telecommuting, atau pekerjaan paruh waktu.
  • Jangan libatkan diri dalam gosip kantor dan kegiatan-kegiatan negatif lainnya di tempat kerja.
  • Dengarkan panggilan untuk mengikuti gairah Anda. Itu adalah sumber dari kejeniusan Anda.
  • Jika Anda memutuskan untuk berganti pekerjaan, pelajari keahlian baru dan terlebih dahulu jalinlah relasi dalam bidang baru Anda.
  • Pertimbangkan untuk mengubah hobi menjadi suatu pekerjaan yang menghasilkan pendapatan.
 

Pekerjaan: Tirani atau Transenden

Filed under: Newsletter — lanitacare @ 12:30 PM

“Pekerjaan kita bukanlah hidup kita…hanya permainan kita saat ini. Kita mempunyai pilihan.” – Joshua Halberstam, penulis Work: Making a Living and Making a Life

“Saat itu tahun 1973 dan aku hampir berusia 50 tahun,” kata Hillary Stewart. Penulis yang produktif, ilustrator dan ahli budaya asli dari West Coast ini memberitahuku mengenai mengapa ia berhenti dari pekerjaannya sebagai perancang rangkaian televisi hampir 30 tahun yang lalu. “Aku berjalan-jalan dengan arsip besar di tanganku bertuliskan ASMB (Aku Sedang Menulis Buku). Kapanpun sempat, aku akan pergi ke kantor, menutup pintu dan mengerjakannya. Pada akhirnya aku harus menentukan pilihan sehingga aku mulai menabung dan ketika sudah merasa siap, aku melakukan suatu lompatan. Ini merupakan suatu perjuangan untuk memenuhi seluruh kebutuhan sehingga aku harus sangat menghemat pengeluaran. Aku bahkan mengumpulkan apel-apel di musim gugur dan minum kopi tanpa krim. Tetapi aku telah bertekad.”

Dan, Hillary Stewart tidak hanya mampu bertahan; ia berjaya! Pekerjaannya adalah sukacitanya. Hal itu mengalir dalam kehidupannya ibarat ombak menyapu pantai di rumahnya di Pulau Quadra. Keputusannya untuk menguji Dewa Keamanan dan Rencana Pensiun membawanya ke kehidupan yang penuh makna. Ms. Stewart menyelesaikan buku tersebut dan beberapa buku lainnya.

Pekerjaan yang bermakna, itulah masalahnya. Pada tingkatan paling dasar, pekerjaan bertujuan memenuhi kebutuhan ekonomi kita dan menunjukkan posisi kita dalam masyarakat. Melaluinya, kita membayar sewa rumah, membeli kebutuhan sehari-hari, dan menyiapkan masa depan. Tetapi, pekerjaan kita juga dapat menyatakan siapa diri kita dan memberi kita alasan untuk melanjutkan kehidupan. Entah kita menjadi pelayan di restoran lokal atau mengelola perusahaan pialang Wall Street, pekerjaan yang penuh makna akan menunjukkan bakat khusus kita dan memberikan kepuasan yang mendalam.

Tetapi, pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan meracuni gairah hidup. Pekerjaan seperti itu mencuri anugerah yang pantas kita miliki serta membuat tawar hati dan jiwa kita-dan itu dapat menyesakkan kehidupan dengan kelelahan emosional dan fisik. Pekerjaan semacam itu memenuhi kehidupan dengan kecemasan, kebosanan, penolakan, dan kepercayaan diri yang rendah, yang dapat membuat kita tidak nyaman, berharap berada di tempat lain atau-terjebak dalam lingkaran iri hati yang kejam-menjadi seorang yang berbeda. Seperti semua kekacauan, pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan menutupi kehidupan dengan kekacauan arus bawah yang menggerogoti dasar kekuatan pribadi.

Kurangnya penghargaan, tempat kerja yang penuh gosip, lingkungan fisik yang tidak sehat, pekerjaan tanpa masa depan, dan atasan yang kurang menghargai, semua memberikan sumbangan bagi kekacauan di tempat kerja. Dan, ketidakbahagiaan di tempat kerja bersifat meluas. Hanya 13% pria dan 22% perempuan dari 10.000 orang yang disurvei dalam suatu penelitian di Inggris, menyatakan mereka sangat puas dengan pekerjaan mereka. Survei lain oleh versi online majalah Red menemukan bahwa 6 dari 10 wanita berharap mereka dapat berhenti dari pekerjaan mereka.

Meski demikian, sebagian besar dari mereka tidak melakukannya. Godaan akan liburan mendatang, kenaikan gaji tahunan, dan janji akan jaminan pensiun membuat banyak orang bertahan dengan tempat kerjanya. Demikian juga tanggung jawab terhadap keluarga dan para kreditor yang tidak kenal lelah. Melakukan apa yang benar-benar Anda inginkan dapat dilakukan oleh orang dengan rekening yang memadai. Akan tetapi, bagaimana dengan pekerja biasa yang memiliki berbagai komitmen dan kewajiban yang nyata?

Esperanza, penata rambut saya yang hebat berkata bahwa semuanya adalah masalah sikap. Esperanza meyakini kata-kata Quaker, “Pekerjaan adalah cinta yang dinyatakan.” Bunga dalam vas (hadiah mingguan dari suaminya) yang mendominasi studionya tampak pucat berdampingan dengan gairah hidupnya yang membara. Musik Latin yang penuh semangat memenuhi ruangannya seiring ia memotong, mengeriting, dan menari Tango. Salep rasa peduli yang tulus mengalir dari ujung gunting pemotong rambutnya ke wanita-wanita yang datang untuk mendapatkan penampilan baru yang menarik. Mereka meninggalkan salon dengan hati dan kepala yang penuh dengan kebijaksanaan meja dapur (kitchen-table wisdom) Esperanza.

“Jika Anda ingin berganti pekerjaan, tetapi tidak bisa, ubahlah pandangan Anda,” kata wanita penuh semangat yang pelukannya dapat menyesakkan Hulk Hogan itu. “Aku bahagia dengan apa yang kulakukan sekarang, tetapi seperti kebanyakan orang, aku pernah melakukan pekerjaan yang tidak kusukai. Tapi, hei, kita harus bekerja. Terkadang kita harus menampakkan muka yang cerah dan melakukan yang terbaik untuk membuat matahari bersinar-khususnya ketika hari mendung. Dan Anda tahu?” ia menambahkan dengan senyum yang lebar dan cerah. “Ketika kita mencari keindahan dalam hidup, kita menemukannya, bahkan dalam pekerjaan yang tidak kita sukai.”

Jika sudut pandang positif dapat menguraikan kekacauan mental, demikian juga kreativitas yang penuh semangat. “Bagiku, mengajar mata pelajaran yang tidak aku sukai adalah kekacauan di tempat kerja,” kata Barbara, seorang guru yang sangat menyukai sejarah dan membenci olahraga. “Aku sangat menyukai sejarah tetapi benar-benar tidak berbakat pada pendidikan fisik. Untungnya, saya memiliki seorang rekan kerja yang setuju untuk bertukar kelas pendidikan fisik saya dengan kelas sejarahnya. Dengan satu mata pelajaran lebih sedikit untuk dipersiapkan, kita memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sukai. Semuanya menang, khususnya untuk anak-anak.”

Dua jam menyetir ke tempat kerja menimbulkan kekacauan pekerjaan bagi Sue, seorang eksekutif akuntansi senior yang berbasis di Vancouver. “Menyetir di kota ini sangat mengerikan. Aku berubah menjadi hewan ketika tiba di kantor.” Untungnya, perusahaan Sue mengizinkannya bekerja dari rumah selama dua hari dalam seminggu. “Hal itu merupakan hal yang bagus bagi mereka. Aku kurang mendapat gangguan dibanding di kantor sehingga aku sungguh lebih produktif. Dan, aku menghemat semua waktu yang dihabiskan untuk perjalanan pergi pulang.”

Tetapi, bagaimana jika kita meremehkan pekerjaan kita, tidak tahan terhadap atasan kita, ketakutan akan hari Senin, dan mati perlahan setiapkali mengisi tanda hadir? Jika kita melihat, seringkali ada banyak kesempatan baru dalam bidang yang sama. Seorang perawat ruang operasi yang mencari ketenangan dari suasana yang penuh tuntutan dapat dilatih kembali sebagai praktisi kesehatan umum. Seorang bankir yang frustasi dengan ketidakfleksibelan institusi besar dapat membuat perusahaan konsulatasi keuangannya sendiri. Seorang pengacara perceraian yang lelah dengan kepercayaan dan kebencian dari ruang sidang dapat menggunakan keahlian negosiasi dan menyelesaikan masalah untuk mengajar penyelesaian sengketa.

James, seorang representatif pemasaran, menangani situasi yang dihadapinya dengan sabar dan sebuah rencana. “Aku menangani hidupnya iklan suatu produk bir,” katanya mengenai pekerjaannya. “Aku duduk di bagian VIP dalam pertandingan-pertandingan, bermain ski, bermain golf, dan memancing di tempat-tempat terbaik.” Ketika rambut ikal pirangnya mulai memutih, dan keluarganya yang berkembang menuntut perhatian, jenjang karier perusahaan terbuka bagi kenaikannya. Yang harus dilakukan James hanyalah mempercepat langkah. Saat itulah James berhenti.

“Aku ingin melihat anak-anakku tumbuh dewasa. Meskipun perusahaan tidak pernah mengatakannya, mereka mengharapkan kita hidup untuk pekerjaan tersebut,” ia menjelaskan. “Tentu saja, (para atasan) mengatakan betapa pentingnya menyeimbangkan kehidupan kita, bahkan menawarkan kursus-kursus kepada kita mengenai bagaimana melakukannya, tetapi mereka tahu bahwa sasaran kuartalan harus diutamakan. Uang dan semuanya, tentu saja menyenangkan, tetapi mereka memiliki diriku-dan waktuku.”

James menyadari keahliannya memiliki nilai lebih, tetapi ia mengatakan bahwa ia “tidak ingin mengambil resiko besar sehingga aku mulai membuka mata terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan industriku.” Ia berbicara dengan orang-orang, menanyakan apa yang terjadi di dalam perusahaan mereka, dan mencaritahu bagaimana mereka diperlakukan. Kemudian ia mulai melemparkan komentar-komentar pada calon atasan, membuat mereka tahu bahwa ia mencari pekerjaan lain. Dalam waktu satu tahun, James memiliki posisi lain di perusahaan dimana orang benar-benar dapat berlibur. “Gajinya lumayan, aku menyukai tantangannya-dan aku punya waktu bersama anak-anakku.”

Saya bertanya pada James nasihat apa yang akan ia berikan kepada putra-putranya ketika mereka melangkah ke dunia kerja. Apakah ia akan mendorong hasrat atau pensiun? “Aku tahu kedengarannya pasti klise, tetapi aku akan memberitahu mereka untuk mengikuti kata hati mereka, dan tidak terikat oleh rantai emas atau tergoda oleh kekuasaan, tidak membiarkan pekerjaan mengendalikan kehidupan mereka. Jika mereka dapat melihat bahwa semuanya adalah kekacauan, sisanya akan mudah.”

Tetapi, meskipun keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga cenderung secara umum mengarah kepada pekerjaan, beberapa perusahaan menyadari bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan adalah suatu prioritas dalam menarik dan mempertahankan staf-stafnya. Dan, ketika mereka melakukannya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa cuti sakit menurun dan produktivitas meningkat hampir 20%.

“Aku baru saja mengakhiri suatu hubungan yang sulit ketika aku mulai bekerja di sini,” kata Carol, seorang kasir toko waralaba. “Atasanku mengetahui hal tersebut ketika ia mempekerjakanku. Emosiku mudah terganggu, tetapi ia tetap menerima diriku, membantuku melewati hari-hari yang buruk, dan memberiku libur ketika aku membutuhkannya. Meskipun aku dapat memperoleh pendapatan lebih besar dengan bekerja di tempat lain, aku tidak akan pergi. Atmosfer disini sangat positif. Bekerja di sini adalah terapi untukku. Semua orang tersenyum.”

Donna, seorang mantan pegawai bank, mengambil resiko besar ketika ia meninggalkan pekerjaannya (dengan insentif rasa aman dan manfaatnya) untuk memulai suatu usaha yang menawarkan tur-tur jalan setapak dan tempat-tempat peninggalan bersejarah di kotanya. “Bekerja di bank membuatku tercekik,” ia menjelaskan. Dengan sepenuhnya menyadari kesulitan keuangan dari usaha musiman semacam itu, Donna melakukan pekerjaan rumahnya dahulu. Ia mengembangkan suatu rencana usaha yang kuat dengan survei pasar, menjalin hubungan dengan dewan turisme, menawarkan tur-tur perkenalan kepada para jurnalis yang berkunjung, dan menyusun suatu program promosi yang strategis.

Ketika kami terakhir kali mengobrol, ia sedang merencanakan musim mendatang yang luar biasa, setelah musim pertama yang menjanjikan. “Tentu saja ada banyak resiko dan tantangan ketika meninggalkan pekerjaan yang kumiliki, tetapi hidup penuh hal-hal semacam itu. Aku merasa begitu hidup saat ini.” Untuk wanita muda yang penuh tekad ini, keputusan untuk melakukan apa yang ia sukai dibandingkan “mengalir bersama arus” menentukan bagaimana ia memilih untuk menjalani hidup dan hal tersebut membuatnya sangat bahagia. “Aku percaya bahwa kita berhak melakukan apa yang kita sukai, tetapi kita harus bersedia berinvestasi dalam diri sendiri, merencanakan dengan hati-hati, mempelajari apa yang perlu kita ketahui, memfokuskan tujuan-tujuan kita, dan mendorong diri sendiri agar berhasil.”

Frances Litman, yang juga terjebak dalam pekerjaan yang telah kehilangan daya tariknya, menjalani dua pekerjaan sebelum ia mengalihkan gairahnya pada sesuatu yang menghasilkan. Mantan asisten redaksi itu menemukan ketertarikan alami dengan kamera setelah mengikuti sebuah kursus fotografi. “Aku jatuh cinta dengan kamera. Aku belajar dan praktek. Jauh di lubuk hati aku tahu kamera adalah panggilanku, tetapi dapatkah aku bertahan hidup dengan memotret? Itulah tantangannya.” Ms. Litman bercerita mengenai bagaimana mengalahkan pikiran-pikiran yang mengganggu seperti “bekerja di bidang seni kreatif berarti hidup miskin” dan “memotret bukanlah pekerjaan yang sebenarnya.” Saya bertanya bagaimana ia melakukan peralihan dari pekerjaan yang terjamin ke kegiatan yang penuh resiko tersebut. “Itu adalah resiko yang telah diperhitungkan,” ia menanggapi dengan serius. “Aku mengembangkan usaha fotografi ketika aku masih bekerja di surat kabar. Selama tiga tahun aku menjalankan dua pekerjaan. Kemudian aku meninggalkan pekerjaanku untuk fotografi. Sekarang aku tidak dapat membayangkan melakukan yang lainnya.” Seperti Hillary Stewart, yang bukunya tidak pernah hilang dari pasaran, Frances Litman juga berhasil dalam bidangnya, terus menerus memenangkan penghargaan internasional dan menikmati setiap menitnya.

Ada banyak contoh orang yang meninggalkan pekerjaan yang tidak memuaskan untuk menemukan pekerjaan lain yang memenuhi kebutuhan terdalam dan mengekspresikan nilai-nilai pribadi mereka. Seorang detektif swasta memasuki dunia pendeta, seorang pekerja tempat penitipan bayi sekarang adalah seorang pejabat polisi, seorang mantan birokrat pemerintah menciptakan keajaiban dengan menjadi seorang produser film, dan mantan supir truk sekarang menjadi seorang pemahat yang sukses.

“Dalam kebanyakan kasus, mereka yang melakukan perubahan harus menghadapi hal-hal yang penting bagi mereka, menilai kembali nilai-nilai mereka dan berhadapan dengan tekanan sosial yang terus ada, yang menilai siapa diri mereka dan apa yang mereka lakukan,” kata penasihat tenaga kerja Hannah Green. “Orang seringkali menilai diri mereka menurut pekerjaan yang mereka lakukan.”

Mendiang Joseph Campbell, seorang filsuf, pakar mitologi, pengarang, dan guru yang mempopulerkan istilah “ikuti gairah Anda”, mengatakan bahwa ketika kita melakukan hal ini, pintu-pintu yang tidak kita ketahui pernah ada, akan terbuka. Tidak diragukan, ada banyak ujian di sepanjang jalan, tetapi Campbell menekankan bahwa ketika potensi dipupuk dengan kekuatan gairah yang terarah, hal itu akan berkembang untuk membebaskan jiwa kita. Ini adalah cara kita menciptakan surga kita di dunia dan menghasilkan kejeniusan.

Melodi yang mengagumkan dari simfoni Mahler, terobosan baru di bidang medis yang menyembuhkan polio dan cacar air, usaha-usaha rumah yang meningkatkan pelayanan bagi para lansia, eksplorasi terarah di pedesaan, momen-momen yang tertangkap oleh foto-foto Litman, dan satu halaman dari buku Hillary Stewart, semuanya berpangkal pada bekerja dari hati. Yang sama kuatnya adalah kue pastel yang enak di toko kecil di ujung jalan, kerajinan tangan yang mengisi toko-toko sekitar, para sukarelawan yang berbagi bakat-bakat mereka. Ketika kerja adalah “cinta yang menjadi kenyataan”. hal itu menepis kebosanan, rasa apatis, dan kejenuhan-kekacauan dari pekerjaan yang tidak memuaskan. Ketika pekerjaan menjadi pernyataan kemanusiaan kita, ketika hal itu mengungkapkan siapa diri kita, ketika hal tersebut bergaung seirama dengan gairah diri kita yang terdalam, segala hal menjadi mungkin. Sebagai penerbit yang tangguh, Katherine Graham berkata, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mencintai apa yang Anda lakukan dan berpikir bahwa hal tersebut berarti.

 

TIPS MENGATASI KEKACAUAN 10 15 November 2010

Filed under: Newsletter — lanitacare @ 5:38 PM
  • Untuk menghindari spam, mendaftarlah ke penyedia jasa layanan internet yang untuk mendapatkan penyaring e-mail. Anda juga bisa mencoba mendaftar ke Email Preferences Services Limited di http://www.emailpreferenceservice.com
  • Jika Anda berniat membeli satu paket perangkat lunak untuk menyaring spam, pilihlah satu yang menawarkan teknologi paling mutakhir. Beberapa penyaring mengurangi spam tersebut tetapi mungkin tidak menghilangkan semuanya.
  • Hindari membeli barang yang diiklankan melalui pesan spam, sekalipun produk tersebut tampaknya sah. Jangan membalas pesan spam, memencet tombol bergabung, atau mengikut petunjuk “keluar dari daftar”. Jika Anda melakukannya, pengirim pesan spam akan tahu bahwa alamat Anda aktif.
  • Daniel Stamp dari Priority Management menawarkan tujuh strategi bagi pengelolaan e-mail yang efektif.
  1. Matikan pemberitahu pesan atau pesan visual. Anda tidak akan membiarkan pembawa surat mengosongkan kotak surat di meja Anda 10 kali sehari dan Anda tidak akan membiarkan mereka memencet beli setiap kali ada kiriman. Itu yang terjadi jika Anda membaca e-mail ketika surat itu tiba. Matikan pemberitahu pesan atau pesan visual, dan kendalikan e-mail dan waktu Anda.
  2. Perlakukan e-mail seperti surat biasa. Usahakan untuk memeriksa e-mail Anda pada waktu-waktu tertentu setiap hari (misalnya, di pagi hari, tengah hari, dan sore hari). Sekalipun Anda menerima e-mail dalam jumlah besar, Anda tidak perlu memeriksanya lebih dari empat kali sehari. Buanglah surat sampah dan segera tanggapi surat yang membutuhkan perhatian Anda.
  3. Berikan jawaban pendek. Jawaban pendek mengurangi panjang dan frekuensi pesan-pesan yang Anda terima. Kita dapat membalas dengan pesan yang hanya tertulis “Sudah dilakukan” atau “Terima kasih”.
  4. Hapus dengan rajin. Kebanyakan orang menyimpan terlalu banyak e-mail. Hapuslah pesan-pesan itu segera setelah Anda membalasnya. Jika Anda ingin menyimpan sesuatu, pindahkan ke folder lain.
  5. Gunakan auto-reply. Gunakan auto-reply yang menjawab orang ketika Anda sedang tidak di kantor. Orang dapat mengasumsikan Anda telah menerima dan membaca pesan-pesan penting sementara pada kenyataannya Anda bahkan tidak ada di kantor.
  6. Kendalikan kotak masuk Anda. Mendaftarlah pada layanan e-mail secara selektif. Buatlah alamat e-mail yang terpisah untuk komunikasi pribadi Anda atau satu yang Anda berikan kepada kontak-kontak kunci, seperti halnya apa yang Anda lakukan untuk nomor telepon yang tidak terdaftar.
  7. Gunakan peringatan. Kadang-kadang terlalu mudah untuk menekan tombol “Kirim” dan sebelum Anda menyadarinya, Anda telah mengirim kata-kata yang akan Anda sesali. Pada akhirnya, dibutuhkan waktu lebih lama untuk memperbaiki kerusakan daripada membiarkan emosi Anda mendingin sebelum mengirimkan suatu pesan. Sarkasme atau usaha lain untuk melawak dapat disalahartikan. Ingatlah bahwa e-mail apapun yang Anda kirim dapat dikirimkan kembali kepada orang lain dan pesan Anda dapat menjadi konsumsi umum.
 

KEKACAUAN TEKNOLOGI

Filed under: Newsletter — lanitacare @ 5:23 PM

“…janganlah membawa kami ke dalam percobaan, tetapi lepaskanlah kami dari E-mail.” -Awanama

Disanalah saya duduk, menunggu bus pada suatu pagi musim semi yang cerah. Semua begitu tenang ketika saya membaca surat kabar, menyambut kedatangan hari yang lembut. Kemudian dalam suatu pekikan kegembiraan “orang-orang seluler” tiba. Beberapa di antara mereka bercakap-cakap tanpa henti dengan telepon mereka yang mirip Mars Bar, sementara yang lain memencet-mencet Palm Pilot dan memeriksa e-mail mereka. Yang lainnya dengan penuh semangat mengetuk-ngetuk laptop. Seperti tsunami, ketenangan pagi menguap dengan cepat.

Meskipun manfaatnya tak terbantahkan, teknologi berpotensi menguasai kehidupan kita. Bermiliar-miliar alamat situs jejaring muncul untuk menjawab pertanyaan mulai dari yang paling sederhana, e-mail tampaknya beranak pinak laksana lalat mengerumuni bangkai, dan dengan ketetapan digital, telepon seluler mendobrak masuk ke dalam ruang dewan, bar, dan bahkan kamar mandi. Seperti Alice yang masuk ke dalam lubang kelinci, kita bingung dengan segala kemungkinan dari penemuan yang paling baru, paling cepat, dan paling keren-berbagai fasilitas yang saya sebut kesemrawutan teknologi.

Kita tercabik-cabik, tegang dan stres ketika komunikasi menjadi semakin mudah, murah dan cepat. Lebih dari 18 miliar pesan elektronik mengalir melalui ruang maya setiap harinya, masing-masing menuntut tanggapan langsung yang menghabiskan waktu berjam-jam setiap minggu. Berbagai lelucon dari teman-teman yang bermaksud baik, permintaan (baik nakal maupun baik), instruksi penegas kehidupan yang dimaksudkan untuk menenangkan semangat di antara berita-berita dari teman dan informasi yang berkaitan dengan pekerjaan, membanjiri hidup kita tanpa ampun, dan seringkali tanpa diundang.

Tetapi mari kita akui: teknologi menguasai semangat zaman. Menurut survei terhadap 2.000 responden yang dilakukan oleh Priority Management Systems terungkap bahwa lebih dari 100 juta orang Amerika Utara kini menggunakan situs internet. Pada tahun 2006 jumlah ini diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat. Penggunaan telepon seluler juga meningkat. Penduduk Hong Kong yang berjumlah 6,9 juta memiliki lebih dari 5,2 juta telepon seluler. Menurut International Telecommunications Union, hampir 50% orang Amerika memiliki telepon seluler dan 7,5 juta orang Amerika menggunakannya secara eksklusif.

Kekaguman akan teknologi membawa kehidupan kita jauh ke depan karena kita tergiur dengan manfaatnya yang begitu banyak. Siapa yang dapat membantah manfaat penelitian tentang internet, efisiensi cut-and-paste dari word processing, atau kemudahan e-mail yang terjangkau? Telepon seluler dapat menjadi sesuatu yang penting dalam keadaan darurat dan voice mail melindungi pesan-pesan penting. Teknologi memberi kita fleksibilitas untuk bekerja dimana saja, kapan saja, dan kemungkinkan manfaat pendidikannya tidak terbantahkan.

Teknologi juga menempatkan kita dalam suatau keadaan “cognitive interruptus” terus-menerus, demikian dikatakan pendiri Priority Management Systems, Daniel Stamp. “Entah itu telepon seluler, e-mail, atau penyeranta, setiap gangguan mengalihkan perhatian kita dari urusan kita. Kami memperkirakan bahwa setiap pekerja rata-rata teralihkan perhatiannya setiap delapan menit. Karena dibutuhkan dua hingga tiga menit untuk mendapatkan kembali fokus, efisiensi akan menurun dan kecemasan meningkat.”

Saya bersimpati kepada Linda, yang bekerja di sektor umum. “Aku menghabiskan paling tidak satu jam setiap harinya untuk membaca dan membalas e-mail. Orang menginginkan balasan yang segera, tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Lugas dan pendek-itulah yang mereka dapatkan. Hidup telah menjadi begitu intens. Semuanya terlalu banyak. Itu membuat gila.”

Seorang manajer senior di bidang pemeliharaan kesehatan mengatakan kepada saya bahwa secara konstan ia menerima akumulasi 300 e-mail. “Aku tidak pernah dapat menindaklanjutinya.”

Dan kemudian ada spam, yaitu kumpulan pesan yang tidak diinginkan dan tidak diminta, yang menurut para pengamat merupakan bagian terbesar dari semua e-mail. Spam merupakan industri yang sedang maju pesat. Seperti halnya kekacauan lainnya, spam menenggelamkan kita, memengaruhi produktivitas dan dompet kita apabila kita memeriksanya satu demi satu: Penyedia jasa layanan internet mengalokasikan pengeluaran besar untuk meningkatkan jaringan mereka dalam membatasi munculnya pesan-pesan seperti itu. Biaya-biaya ini seringkali dibebankan kepada pelanggan.

“Kita menderita depresi digital,” kata Mr. Stamp. “Teknologi mengikat kita dengan tempat kerja dimana pun kita berada. Tidak ada penundaan waktu, tidak ada kesempatan menghindar kecuali kita mengambil kendali. Dengan klien di seluruh dunia, aku harus terus terhubung. Aku memiliki semua teknologi terbaru, tetapi aku mengaturnya.” Ia memberitahu saya bahwa ia menempatkan pagar besi di sekeliling satu setengah jam pertama setiap harinya. “Tidak boleh ada yang mengganggu. Apa yang aku capai selama waktu tersebut seringkali setara dengan apa yang mungkin membutuhkan delapan jam dengan cara lain.”

Penguasaan Mr. Stamp terhadap teroris teknologi mungkin suatu pengecualian. Dalam survei baru-baru ini, 39% peserta mengatakan bahwa mereka menggunakan telepon di kamar mandi.

Godaan dari dunia maya menjangkau lebih jauh daripada toilet. Tanyakan saja pada anak-anak. Menurut survei yang baru-baru ini diadakan di Toronto, sepertiga dari 1.000 anak belasan tahun yang ditanya, terlibat dalam “telephony“, suatu keterampilan multitugas untuk mengganti-ganti saluran televisi melalui kontrol jarak jauh sambil mengirimkan pesan kepada teman-teman mereka melalui internet. Mereka memiliki lebih banyak telepon seluler dibanding tali pancing ayah mereka, dan teman di internet dibanding teman dalam dunia nyata. “Ini kemajuan teknologi. Hebat,” kata seorang anak belasan tahun dengan telepon di telinganya kepada saya.

Keadaan akan bertambah luar biasa. Konsep mobil dengan perasaan yang diluncurkan di pameran mobil Tokyo baru-baru ini, dijanjikan dapat mengernyit, menangis, dan tersenyum serta menghitung denyut nadi dan mengukur keringat Anda. Kulkas internet kini sedang direncanakan. Dengan menggunakan chip komputer dan sebuah videophone, lemari es yang ditingkatkan efisiensinya akan mengirimkan sinyal ketika botol kecap telah kosong, mencarikan resep untuk selai jeruk jahe, atau melakukan download video mengenai bagaimana Martha Stewart the Sunday memanggang. Yang terpenting, timbangan kamar mandi akan mengukur lebih dari sekedar berat; mereka akan mengirimkan data-data biologis yang spesifik kepada dokter Anda. Cermin-cermin “cerdas” akan memasang berita utama sementara Anda menggosok gigi.

Pilihan antara manfaat nyata dan kebutuhan yang kita pikirkan, menentukan muatan kekacauan teknologi kita. Seberapa pun menggodanya segala penemuan hari ini dan masa datang-walaupun memang mengagumkan-kita perlu menentukan apakah semua ini benar-benar berguna bagi kita. Apakah kita merasa perlu untuk selalu dapat dihubungi sehingga kita tidak dapat berjalan-jalan tanpa membawa penyeranta atau telepon seluler? Apakah kita ingin agar anak-anak hidup dan belajar secara imajinatif, berubah menjadi generasi pengkhayal tanpa pengalaman nyata? Mungkinkan menyeimbangkan atau menyingkirkan sepenuhnya kegilaan akan teknologi dan tetap sintas dalam zaman serba cepat dan berenergi tinggi ini?

Pamela Charlesworth, seorang arsitek yang sangat sibuk dan sukarelawan komunitas yang dinamis, berpendapat demikian. Meskipun profesional asal Kanada ini memiliki klien sampai ke Jerman, ia menolak “sirkuit elektronik luar.” Ia memelihara ketenangan gaya Zen, yang membuat iri, ketika ia melalui hari-hari yang padat dengan pertemuan lapangan, konsultasi dengan para klien, para leveransir dan manajer property-semuanya tanpa telepon seluler, penyeranta, e-mail atau dukungan teknologi lainnya. “Aku mau berbicara, melakukan negosiasi, dan memberikan saran jika dibutuhkan,” jelas Mrs. Charlesworth. “aku perlu merasakan klienku. Aku tidak dapat melakukannya lewat e-mail.

Ia mengambil teknologi yang bermanfaat baginya dan membuang sisanya. Meskipun desain buatan komputer tersedia lebih cepat, Mrs. Charlesworth dengan alasan demi karya seni menggunakan pensil, pena, dan kertas untuk menghasilkan gambar-gambarnya. “Aku membuat desain dengan segala yang ada padaku-kepalaku, tanganku, hatiku.” Ia mengatur harinya dengan bantuan seorang asisten “yang terdiri dari darah dan daging” dan sebuah telepon. Mesin faks merupakan salah satu bentuk komprominya. “Kami menata seluruh perabot rumah-menaruh seprai di tempat tidur dan alat-alat dapur di laci-melalui telepon, faks dan kurir,” katanya. “Aku tidak membutuhkan yang lainnya. Mengenai komputer dan internet? Aku ingin bertatap muka dengan mereka yang bekerja denganku, belajar dari apa yang mereka katakan, dan bagaimana mereka mengatakannya-untuk mendapatkan manfaat dari momen yang tidak terduga.”

Keputusan Mrs. Charlesworth untuk menghindari teknologi baru mungkin tampak eksentrik, tetapi keberaniannya untuk memilih apa yang ia butuhkan, apa yang memperkaya dan mendukung proses internalnya merupakan kemenangan pilihan pribadi. “Teknologi memiliki tempat minimal di dalam kehidupanku. Manusia yang utama. Begitulah,” katanya.

Mantan dewan kota Cheryle Scott, yang juga menolak teknologi baru, merasa bahwa teknologi menciptakan budaya merasa penting yang salah. “Jika sesuatu benar-benar penting, polisi bisa menemukanku.” Mrs. Scott juga menyalahkan teknologi karena menjejali kehidupan kita lebih dari yang seharusnya. “Tempat sampah kita penuh dengan mesin penjawab telepon dan faks rusak, komputer yang telah ketinggalan zaman, dan semacamnya.”

Dengan menolak teknologi maju, wanita-wanita ini telah mengambil apa yang dilihat sebagai posisi yang ekstrem. Apakah ada titik tengahnya? Saya kira ya. Kita dapat membuat daftar alat yang benar-benar membuat hidup menjadi lebih mudah. Kita dapat menyaring apa yang masuk serta memutuskan kapan dan apa yang perlu ditanggapi. Kita dapat menanamkan kepada anak-anak kita kepuasan untuk mencari jawaban dengan cara-cara lama, dan bersama dengan itu, kepuasan menemukan hal yang tidak terduga. Dan, kita dapat mengambil satu langkah mundur (atau mungkin satu langkah maju) dengan menggunakan catatan harian dan bukannya Palm Pilot, serta menulis surat atau menelepon daripada menulis e-mail. Di atas segalanya, kita dapat menentukan batasan-batasan dan membuat teknologi melayani kita, bukan sebaliknya.

 

Tips Mengatasi Kekacauan 9 8 November 2010

Filed under: Newsletter — lanitacare @ 2:12 PM

Bahkan, di wilayah-wilayah metropolitan yang sibuk, kekacauan akibat kebisingan dapat dikurangi. Buatlah daftar kebisingan di sekitar Anda. Dengarkan baik-baik segala macam suara dalam ruang kehidupan interior dan eksterior Anda, untuk menentukan suara apa saja yang menjengkelkan, mengganggu, atau meningkatkan kecemasan.

• Gunakan karpet dan penutup lantai. Permukaan yang keras akan memperbesar suara.
• Dalam ruang kerja “berkonsep terbuka”, mintalah pembatas ruangan dan karpet yang mengurangi suara. Tempatkan mesin kantor dan pusat fotokopi jauh dari ruang kerja.
• Jendela berlapis dua atau tiga akan mengurangi kebisingan dan biaya tagihan alat pemanas.
• Tempatkan alas karpet di bawah peralatan yang menimbulkan kebisingan.
• Matikan computer jika tidak digunakan. Mereka mengeluarkan suara dengungan rendah yang berkontribusi terhadap kebisingan yang konstan (white noise).
• Matikan alat peredup cahaya ketika meninggalkan ruangan. Seperti halnya komputer, lampu mengeluarkan dengungan tingkat rendah.
• Minyaki engsel-engsel yang berdecit.
• Berilah kesempatan kepada diri Anda sendiri liburan mental-mini dan matikan dering telepon selama Anda makan dan ketika Anda bersantai.
• Pikirkan nenek Anda ketika Anda menggapai peralatan elektronik. Cobalah versi latihan otot untuk menghilangkan kebisingan dan menguatkan otot-otot lengan. Untuk mencegah getaran dari mesin pencuci piring dan pengering pakaian, pertimbangkan mencuci piring dengan tangan dan menjemur cucian.
• Jadilah “tukang kebun yang tidak berisik”. Gunakan peralatan berkebun manual dan pertimbangkan untuk menggunakan pemotong rumput dorong. (Anda akan sedikit berolahraga dan mendekatkan diri dengan para tetangga.) Jika Anda menangani jasa layanan berkebun, pilihlah satu cara yang menggunakan peralatan yang tidak berisik.
• Buatlah sebuah peredam kebisingan. Tanah, pohon, dan tanaman merupakan peredam kebisingan yang efektif.
• Pilihlah secara sadar suara-suara dalam lingkungan rumah dan kerja Anda. Pertimbangkan air terjun mini atau musik yang lembut daripada televisi dan radio sebagai suara latar.
• Nyatakan jika Anda tidak menyukai musik “bekas” yang dimainkan di restoran, kantor, toko, dan tempat-tempat umum lainnya.
• Bantulah pembatasan kendaraan. Di Copenhagen, 50% pekerja berjalan kaki atau bersepeda ke tempat kerjanya.
• Mulailah berorganisasi. Banyak komunitas yang memiliki kelompok aksi yang melobi bagi pembatasan penghasil kebisingan, seperti peralatan berkebun berbahan bakar gas serta waktu-waktu pengangkutan sampah dan truk pengantar.
• Buatlah suatu ruangan di dalam rumah Anda sebagai tempat perlindungan, meskipun ruang itu berfungsi ganda sebagai ruang tamu.
• Rencanakan waktu-waktu tenang.

 

HILANGKAN KEBISINGAN

Filed under: Newsletter — lanitacare @ 1:54 PM

“Anda tidak perlu berisik agar efektif” – Awanama

“Kalian semua mendengar keramaian itu?” Saya mendengar seorangturis Texas berkata kepada rekannya ketika mereka berjalan di sepanjang jalan besar di Paris. “Pasti ini jam sibuk.”
Kebisingan-banyak kebisingan-mewarnai kota yang bercahaya itu sepasti burung-burung dara yang bertengger pada puncak-puncak atap kunonya. Setiap tahun 10 juta pengunjung membanjiri Paris untuk menikmati monumen-monumennya yang megah, jalan-jalannya yang indah, dan restoran-restorannya yang trendi. Begitu indah-sekaligus melelahkan. Seperti ribuan lebah Napoleon, Paris sibuk siang dan malam. Kesibukan dimulai pada pagi hari ketika tenda-tenda kafe dibuka pertama kali di tepi jalanan yang lengang. Kemudian musik kota berubah menjadi paduan suara terompet ketika mobil dan sepeda motor memenuhi jalanan, pesawat menderu di atas kepala, dan anjing-anjing kecil Paris yang menggonggong-yang merupakan gangguan bagi pejalan kaki yang tidak wasapada-menguasai jalan-jalan. Ketika sore menjelang, suara terompet yang tidak harmonis dan memekakkan telinga itu mulai berkurang hingga, pada dini hari, suara itu kembali lagi menandai hari yang baru.

Kecuali pada Hari Minggu pagi. Itulah saat ketika kebisingan yang menegangkan saraf reda dan Paris bernyanyi. Dan, bernyanyilah ia ketika saya bersantai di sebuah kafe di dekat Seine pada tengah hari sambil mendengarkan dentang lonceng gereja. Daun-daun bergoyang di cabang pohon dan burung berkicau. Jalan raya tampak lebih lebar, pohon-pohon lebih hijau, langit biru tampak melembut saat waktu melambat hingga tempo andante. Pada interlude yang singkat ini, saya mendengar jantung Paris berdetak.
Suasana pagi di Paris itu masih terbayang-bayang di kepala saya. Sampat saat itu, saya terlupa akan kesibukan, teriakan, dan dengungan terus-menerus yang mewarnai kehidupan sehari-hari. Semua itu menjadi bagian dari kertas dinding audio, latar yang tidak kasatmata namun dinamis, yang oleh beberapa orang disebut sebagai “kebisingan yang mengganggu”.

Para ahli mendefinisikan kebisingan yang mengganggu sebagai bunyi yang tidak diinginkan. Kekacauan karena kebisingan ini, tentu saja, merupakan masalah selera. Beberapa orang lebih menyukai Metallica ketimbang Mendelssohn. Hasrat dan perhatian saya terhadap alat musik bagpipe membuat Bob bersembunyi. Tetapi deru alat pemotong rumput dan tanaman liar, para tetangga yang kasar, dan lengkingan telepon seluler sangat mengganggu ketenangan jiwa bagi sebagian besar dari kita. Seperti diombang-ambingkan di lautan yang bergelora, kekacauan yang bising dapat menghancurkan keseimbangan dalam diri kita, dan juga menaikkan tekanan darah. Hal itu melindas kita seperti lalu lintas tengah hari di Champs-Elysees.
Putri saya, Carley, yang pindah dari kota kecil kami yang damai di Wst Coast untuk belajar di Montreal, berkomentar tentang kekacauan akibat kebisingan. “Keadaan itu bisa membuatku gila. Tapi, disinilah diriku, meminum kopi pagi dan melakukan kegiatanku,dan truk sampah mulai bergemuruh dan berdentang di gang. Kemudian ada peristiwa pukul 03.00 ketika bar-bar tutup. Semuanya begitu berisik hingga aku bisa merasakan bedanya apabila suasananya benar-benar hening. Dan,” ia berkata setelah diam sejenak, “semuanya begitu mengganggu, terutama ketika aku belajar.” (Komentar terakhirnya, sudah pasti, merupakan irama merdu bagi telinga seorang ibu ini.)

Meski kebisingan ini bersifat sementara dan tidak terus menerus-dan kita dapat membuat diri kita hidup damai dengannya-tidak demikian dengan dampak kebisingan. Kebisingan yang terus menerus menyebabkan kerugian jutaan dollar. Sebuah artikel Los Angeles Times memuat hasil studi para peniliti Eropa dari 15 negara yang memperkirakan bahwa kebisingan mengakibatkan kerugian tahunan sebesar 2% dari pendapatan per kapita mereka.

Dan, itu belum semuanya. Konsultan audiologi New York City, Maurice Miller, berpendapat bahwa kontak yang lama dengan kebisingan menyebabkan sepertiga dari 33 juta kasus kerusakan pendengaran yang signifikan di Amerika Serikat. Di Eropa, dimana kehilangan pendengaran merupakan penyakitayang paling banyak terjadi terkait dengan kerja, 25-35 orang bekerja dalam lingkungan dengan tingkat kebisingan yang berpotensi membahayakan. Menurut penelitian Sheffield University, kota-kota di Inggris kini 10 kali lebih bising dibandingkan 10 tahun lalu. Bahkan, ketenangan pedesaan telah hilang seiring bertambahnya jalan-jalan bebas hambatan dan jalur-jalur penerbangan.

Suatu laporan yang dilakukan oleh Houston Chronicle juga memperingatkan kita akan bahaya kekacauan akibat kebisingan lingkungan. Sementara tingkat kebisingan yang dapat ditoleransi oleh kesehatan fisik dan psikologis tidak lebih dari 40-50 desibel (dB), mesin pemotong rumput berbahan bakar gas menghasilkan kebisingan 90 dB dan emisi buangan yang berbahaya. Jika kita menambahkan truk-truk pengiriman yang berdecit-decit, kemacetan lalu lintas, suara klakson, alarm mobil, lalu lintas udara, dan terkadang sirene ambulans atau polisi, kita menghadapi begitu banyak kekacauan akibat kebisingan yang melelahkan dan merusak jantung kita.
Para ilmuwan di Jerman mempelajari hubungan antara kebisingan yang menyebabkan stress dan serangan jantung. Pakar audiologi, Dr. Deepak Prasher, tokoh terkemuka dalam isu ini, menulis bahwa volume lalu lintas yang tinggi, khususnya di malam hari, dapat memicu stress kronis, yang berakibat pada penyakit lambung dan jantung. Dan, terlepas dari upaya keras kita untuk tetap awet muda, kebisingan dapat menyebabkan stress berat sehingga mempercepat penuaan, menimbulkan depresi, dan meningkatkan kecemasan. Kebisingan juga menguburkan harapan kita akan mimpi-mimpi indah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Environmental Protection Agency (EPA) memperlihatkan bahwa kebisingan yang “tidak teratur dan impulsif” merupakan salah satu penyebab gangguan tidur, membuat kita moody, kurang konsentrasi, dan rentan mengalami kecelakaan. Dan, jika datang ke tempat kerja dengan mata mengantuk tidak cukup, bunyi mesin faks dan fotokopi, dering telepon, serta para kolega yang berolah vokal akan menghabisi Anda.

Kebisingan juga mempengaruhi anak-anak. Hidup dalam keadaan bising dan kacau meningkatkan kecemasan dan gangguan belajar pada anak-anak. Psikolog Purdue University, Theodore Wachs, menunjukkan bahwa para murid yang hidup atau bersekolah di dekat bandara mengalami lebih banyak kesulitan belajar membaca dibandingkan mereka yang tinggal di lingkungan yang lebih sepi. Suatu penelitian oleh Don Campbell, penulis The Mozart Effect, menunjukkan bahwa murid-murid yang belajar di sekolah yang berlokasi dekat rel kereta lebih tertinggal 11 bulan di belakang anak-anak yang berdiam di wilayah-wilayah yang lebih tenang. Jadi, marilah kita kecilkan volume dan memberi anak-anak kita kesempatan.

Apakah kebisingan yang mengganggu adalah suatu fait accompli (pemaksaan kehendak)? Saya pikir tidak begitu. Seiring meningkatnya volume bunyi-bunyian dalam dunia kita, demikian juga usaha kita untuk mengatasinya. Setiap musim semi, League for the Hard Hearing mensponsori Hari Kesadaran Kebisingan Internasional. Berawal sebagai usaha untuk memberi perhatian pada tingkat kebisingan di New York City, kegiatan ini menyebar ke lebih dari 30 negara. Dan, hal itu menciptakan perubahan. Kantor Telekomunikasi Hong Kong mendapat tekanan untuk meniadakan penggunaan telepon seluler di beberapa tempat umum (rupanya perpustakaan, bioskop, dan bahkan gereja adalah ruang publik) dengan memasang alat pengacak sinyal. Di seluruh Amerika Utara, ambulans, departemen pemadam kebakaran, dan polisi mengevaluasi kembali kebijakan sirene mereka. Penduduk sipil juga perlu mengurangi volume suara mereka. Dalam suatu peristiwa tragis, sebuah ambulans dalam suatu panggilan darurat menabrak sebuah mobil dan menewaskan pengemudinya. Seorang saksi mengatakan bahwa stereo mobil tersebut begitu keras sehingga pengemudinya mungkin tidak mendengar sirene ambulans.

Vancouver’s Right to Quiet Society bergabung dengan para warga yang lelah oleh kebisingan dari seluruh Amerika Utara dan Eropa untuk menuntut dibuatnya peraturan guna melarang penggunaan alat untuk mengumpulkan daun berbahan bakar gas. Sejak tahun 1982, kelompok tersebut mendidik berbagai komunitas dan melobi politikus untuk mengurangi kebisingan. Mereka berpendapat bahwa lingkungan yang tenang adalah kebutuhan dasar manusia, seperti halnya udara dan air bersih. Dengan segala usaha mereka dan kelompok-kelompok di tempat lain, “para advokat ketenangan” ini memberikan tekanan untuk mengurangi kebisingan di kota-kota mereka. Di banyak tempat “para tukang kebun tenang” yang hanya menggunakan peralatan tangan mulai mendapatkan tempat karena mereka bekerja tanpa suara.

Lebih dari 40 kota di California melarang penggunaan alat untuk mengumpulkan daun dan kota-kota lain di benua Amerika mulai berjuang untuk mengakhiri penggunaan penghasil kebisingan yang meraung-raung pada 110dB. Seperti Ted Reuter menulis dalam Christian Science Monitor, “alat pengumpul daun merupakan contoh yang sempurna dari teknologi yang membabi buta. Mereka meraung dan berdecit, meniup kotoran dan debu, dan tidak mencapai apapun.” Menurut mantan dewan kota Los Angeles, Marvin Braude, sebelum alat pengumpul daun berbahan bakar gas itu dilarang, mereka mengeluarkan 18.000 ton polutan karsinogenik ke lingkungan udara kota setiap tahunnya.

“Bayangkan mendengar angin berbisik,” kata suami saya, mengingat saat-saat ketika ia berada di Arktik. “Itulah keheningan yang sebenarnya-ketika suara yang sekecil apapun dapat berjalan selamanya.” Komentarnya mengingatkan saya akan dering berirama bel sepeda di Sark, sebuah pulau Liliput di pantai utara Perancis. Di sana tidak ada kekacauan akibat kebisingan-hanya suara dari cara hidup yang lebih lembut. Semua kendaraan bermotor (kecuali sejumlah traktor pertanian) dilarang. Industri berat akan dipandang rendah. Alih-alih dengungan lalu lintas, pulau tersebut bergema oleh suara kuda yang menarik kereta, para penghuni pulau yang mengayuh sepeda, dan orang-orang yang saling menyapa ketika bertemu di sepanjang “The Avenue”, jalanan utama Sark.

Saat melakukan penelitian di oasis kecil ini untuk menambah materi cerita yang sedang saya tulis, saya baru sadar mengapa dua jam dalam suasana yang hiruk pikuk di mal kota itu melelahkan, sementara seharian berjalan di sepanjang puncak tebing Sark sangat meningkatkan energy. “Kita memenuhi ruangan dengan musik yang terus menerus, obrolan… Itu ada disana untuk mengisi kekosongan. Ketika kebisingan itu berhenti, tidak ada music dalam diri untuk menggantikannya,” tulis Anne Morrow Lindberg dalam bukunya yang abadi, Gift from The Sea. Kata-katanya menegaskan bahwa waktu yang dihabiskan dalam suatu lingkungan yang tenang dan spiritual membuat pikiran menemukan iramanya sendiri, bukan irama yang didiktekan oleh segala pengaruh luar.

Suatu tren baru dalam desain rumah mencakup sebuah ruang kedamaian, ruangan yang memberikan suasana hening dan meditasi. Di situ jiwa berkembang tanpa kebisingan. Ketika ia meniadakan kebisingan, kita membuka diri terhadap keindahan musik alami yang lembut-dan musik inilah yang memberikan energi kepada jiwa dan mengembangkan kreativitas.

Seperti memilih objek untuk rumah kita, suara-suara yang hidup bersama kita, haruslah bermanfaat, memperkaya secara spiritual, atau sangat indah. Sisanya adalah kekacauan.

 

Tips Mengatasi Kekacauan – 8 1 November 2010

Filed under: Newsletter — lanitacare @ 3:31 PM
  • Lakukan sekarang juga. Menunda-nunda dapat melumpuhkan kita.
  • Delegasikan tugas dan libatkan pasangan Anda dan anak-anak.
  • Buatlah jadwal setiap hari untuk diri Anda sendiri.
  • Kontrollah alat-alat elektronik. Matikan dering telepon pada waktu malam. Matikan telepon seluler selama urusan keluarga atau relasi.
  • Matikan televisi dan berjalan-jalanlah.
  • Rencanakan waktu untuk makan dengan baik dan tidur secukupnya.
  • Kurangi kopi.
  • Tidurlah lebih lama. Penelitian menunjukkan bahwa banyak dari antara kita yang sering mengeluh kelelahan.
  • Ganti-gantilah sarana transportasi Anda selama beberapa hari dalam seminggu. Cobalah bersepeda, berjalan kaki, atau naik bus. Hal ini akan memperlambat waktu Anda dan memberi waktu untuk berolahraga dan merenung.
  • Bekerjalah dengan hasrat. Jika pekerjaan Anda saat ini tidak memuaskan Anda, carilah pekerjaan lain.
  • Multitugas, seberapa pun besar manfaatnya, mengurangi efektivitasnya dan menciptakan tekanan. Kurangi pemecah konsentrasi dan abaikan multitugas sehingga dapat berfokus hanya pada satu tugas dalam satu rentang waktu.
  • Dapatkan kembali waktu di luar jam kerja dengan membatasi urusan kepanitiaan, urusan sosial terkait “bisnis”, dan urusan pertemuan yang menyedot perhatian.
  • Lawanlah godaan untuk memadatkan jadwal anak-anak.